Minggu, 24 April 2011

Albert Schweitzer




Lahir di Kaysersberg (Jerman) 14 Januari 1875, Albert Schweitzer adalah seorang pendeta, organis, ahli filsafat, dan dokter berdarah Franco-German. Ayahnya seorang pendeta aliran Lutheran-Evangelical di gereja setempat, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat baik.
Schweitzer sangat menyukai musik. Alat musik yang dikuasainya adalah organ dan piano, dan lagu-lagu yang dia sukai adalah lagu-lagu gubahan J.S.Bach. Saat remaja dia belajar organ pada seorang guru, Eugene Munch. Hingga hari tuanya, dia masih suka bermain organ atau piano terutama sebagai penghibur di tengah-tengah kesibukannya.
Dalam bidang akademis, Schweitzer termasuk anak yang cerdas dan kritis. Dia selalu ingin tahu akan segala sesuatu. Rasa penasarannya akan kekristenan lah yang mendorong dia mengambil kuliah di jurusan Teologi Protestan. Dari studinya di jurusan tersebut, Schweitzer semakin menganalisis kehidupan Yesus dan akhirnya dapat menerbitkan sebuah buku yang berjudul “The Quest of The Historical Jesus”. Buku tersebut berisi tentang pandangannya akan Yesus secara sejarah. Setelah itu Schweitzer juga menerbitkan banyak buku lainnya seperti The Psychiatric Study of Jesus: Exposition and Criticism dan beberapa buku lain tentang musik dan kehidupan Yesus.
Ketika dia bangun tidur di suatu pagi di usianya yang ke 21 tahun, dia merasa bersyukur akan hidupnya dan berjanji bahwa sebelum usia 30 tahun dia akan mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, setelah usia 30 tahun dia akan mengabdikan dirinya untuk sesama. Berangkat dari janjinya inilah Albert Schweitzer yang tadinya seorang pendeta dan dosen di jurusan filsafat berubah menjadi dokter sekaligus penginjil yang mengabdikan dirinya untuk sesamanya di Afrika Tengah. Di usianya yang ke 30 tahun dia belajar kedokteran untuk memenuhi sebuah panggilan jiwa sekaligus misi mengobati orang-orang di Afrika. Akhirnya dia berhasil mendirikan rumah sakit di Lambarene dan sukarelawan dokter dan perawat semakin banyak yang membantu mengurus rumah sakitnya. Hingga akhir hayatnya, Schweitzer dan isterinya yang seorang perawat mengabdikan diri mereka untuk mengobati orang-orang Afrika di Lambarene, Gabon.
Saya pribadi sangat tertarik pada kisah hidup seorang Albert Schweitzer yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Tuhan dan sesama. Dia rela meninggalkan pamornya sebagai pendeta dan dosen. Dia lebih memilih melayani sesama sebagai dokter di Afrika, dan itu sesuatu yang tidak mudah. Budaya masyarakat serta kepercayaan yang berbeda kadang-kadang menambah repot dirinya. Tetapi dia melakukan semua itu dengan senang hati. Sempat pula pelayannya terhambat oleh Perang Dunia I dan II, tetapi dia tetap gigih melayani orang-orang Afrika. Buah dari pengabdiannya tersebut, Albert Schweitzer memperoleh Nobel Perdamaian pada tahun 1952.
Banyak sekali teladan yang dapat kita ambil dari kehidupan Albert Schweitzer. Filsafat-filsafat dan pemahamannya akan hidup dapat kita renungkan dan lakukan. Pengabdiannya untuk sesama, kerelaan hatinya dalam melayani, kasih sayangnya, serta kekritisan pikirannya dapat kita contoh. Semua itu dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita bila kita niat dan rela.
Albert Schweitzer bukan hanya sekedar pendeta, ahli filsafat, maupun dokter. Lebih dari itu, dia pribadi yang penuh kasih sayang dan rela hati untuk melayani Tuhan dan sesamanya.

Jumat, 15 April 2011

Walau Gelap Tak Menggangguku Mencari Rezeki

Dikehidupan jaman sekarang ini yang semakin hari semakin susah kita untuk mengais sebuah rezeki , karena persaingan hidup yang semakin hari semakin ketat, dimana kita harus pandai dalam mencari sebuah rezeki itu. Contoh saja tempat dimana saya tinggal sekarang , dimana banyak sekali para pendatang dari luar kampung dimana tempat saya tinggal, yang mereka rela pergi meninggalkan kampung halamannya , keluarga, dan sanak saudaranya , hanya demi untuk mencari sebuah rezeki dikampungku. Padahal dikampung ini sudah banyak sekali para pedagang yang mencoba mencari rezeki di kampungku ini.
Tetapi hal ini tidak menghalangi niatan bapak yang satu ini untuk berdagang nasi goreng dikampungku ini, meski saingan dalam usahanya sangatlah banyak. Bapak yang bernama Muhammad Kudori ini, adalah salah satu dari banyaknya para pendatang dari luar jakarta. Dia rela meninggalkan kampung halamannya hanya demi untuk mencari sebuah rezeki , demi kehidupan yang tercukupi.

         
          Foto diatas saya ambil ketika bapak kudori ini hendak membuka lapak perdangan nasi gorengnya, yaitu kira-kira pukul 5 sorean. Mengapa pada judul saya beri judul “Meski Gelap Tak Menghalangiku” . disini saya ambil judul ini. Karena bapak kudori ini memulai perdaangannya sekitar sehabis magribh hingga tengah malam, bahkan kadang-kadang hingga pagi. Bapak ini melakukan perdagangannya hanya seorang diri tanpa ditemani istri , anak, maupun saudara. Beliau tiada pernah sedikitpun mengeluh dalam pedagangannya, karena menurut ia “Rezeki itu ga akan ada habisnya jika kita giat mencarinya “. Sungguh hal yang luar biasa , ditengah  kehidupan hilur pikuk kota jakarta ini, ia rela berdagang tanpa istirahat setiap harinya. Karena pagi waktunya ia mencari barang-barang untuk dagangannya, dan kemudian memasaknya, ini dilakukan oleh tangannya sendiri. Dan waktu malam waktunya ia membuka dagangannya.
         
          Yah inilah, salah satu dari banyaknya para pendatang dari luar ke ibukota, tetapi semangat yang dimiliki sangatlah berbeda dengan semangat kita yang tinggal di ibukota ini. Jadi “Mari Kita Tunjukkan Semangat Kita Dalam Menjalani Kehidupan Ini, Karena Semangat dan Motifasi adalah Awal Dari Berubahnya Kehidupan Kita”. Jangan menyerah meski gelap sudah menghampiri.